Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Faktor Pemicu Terjadinya Dusta/Bohong Pada Anak

10.37 Add Comment
Banyak sebab dari terjadinya kecendrungan sang anak untuk berdusta/bohong. Dan pada umumnya yang menjadi pemicu dari terjadinya hal buruk tersebut adalah disebabkan oleh beberapa faktor seperti dibawah ini: 1. Faktor Pemicu Pertama Yaitu Kekuatan daya imajinasi yang kuat Biasanya pada usia sekitar 4 tahunan sang anak baru memulai mengkhayalkan berbagai kejadiaan. Namun kejadian-kejadian yang dikhayal adalah kejadian tidak nyata, atau tidak beraturan. Misalkan sia anak menceritakan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi, dan menjadi relitas yang sesungguhnya. Sebab pada usia ini biasanya kekuatan daya imajinasi anak masih luas-luasnya dan menyerupai khayalan yang mengada-ngada seperti imajinasi seoorang penyair yang pawai. Dan khayal yang semacam ini tidak dianggap Dusta/bohongkarena khayal ini bukanlah dikarenakan fitrah yang buruk. Bagi anak, mungkin cerita ini memberikan kepuasan tersendiri dan sebagai bentuk hiburan bagi dirinya. Makanya seorang juru didik yang profosional akan lebih focus untuk selalu mendampingi atau memberikan pengarahan yang benar. 2. Faktor Pemicu Kedua Yaitu Rasa ingin memiliki Untuk zaman saat ini telah menjadi realitas seorang anak itu sering kali mendakwakan keinginannya untuk memiliki sesuatu seperti mainan-mainan, pakaian yang bagus, atau pun yang lainnya. Padahal is tidak memilikinya. Dan dakwa ini dianggap Dusta/bohong, namun dakwaan ini memberikan kepuasan seolah-olah ia mangaku bahwa dihadapannya ada sebuah mainan atai benda-denda mati lainnya. Dan ketika ia bangun, ia makan, ketawa, berjingkrak dan bermain. 3. Faktor Pemicu ketiga Rasa ingin menampakkan dan menarik perhatian Seorang anak memang terkadang mengaku-ngaku sudah melakukan berbagai percobaan aneh, seperti bercerita pernah berkunjung ketempat wisata, padahal sebenarnya tidak. Dan terdang seorang anak melebih-lebihkan dalam melukiskan apa yang telah dia beritahukan. Semua ini bertujuan untuk membesarkan namanya atau menarik perhatian teman-temannya, sehingga dia menjadi pusat perhatian. Ingat semua ini tercipta dari emosional seorang anak. Seperti itu pula, terkadang ketika seorang anak mengaku-ngaku bahwa ia telah mengunjungi ke beberapa rumah teman-temannya, tiba-tiba ada pencuri dan anak itu berhasil menangkapnya. 4. Faktor Pemicu Keempat Yaitu Menghindari hukuman Kadang seorang akan akan pura-pura sakit bila misalkan ia mendapat nilai yang rendah dalam belajar,atau tatkala pihak sekolah mengirimkan surat teguran kepada orang tuanya agar ia dapat hadir ke sekolah.Bahkan boleh jadi ia berbohong untuk mempertahannkan kepercayaan kedua orang tuanya dan guru-guru sekolahnya. 5. Faktor Pemicu Kelima Yaitu Ingin balas dendam Seorang anak terkadang berbohong hanya gara-gara ingin balas dendam kepada orang lain, misalkan seseorang nmencoba untuk melimpahkan berbagai tuduhan kepada orang lain dengan berbagai macam alasan sekalipun sebenarnya alasan tersebut tidak benar, hingga orang yang ditimpakan tuduhan itu mendapat hukuman atau celaan yang teman-teman sekitar. Biasanya semua ini dikarenakan perasaannya tidak mendapatkan persamaan dalam berintraksi dengan beberapa teman-temannya, hingga dia terdorong untuk balas dendam. 6. Faktor Pemicu KeenamYaitu Egois Faktor yang lain yang bisa mendorong seorang anak berbohong adalah keinginan untuk mendapatkan bagian keistimewaan yang tidak didapatkan olah orang lain. Inilah yang dikatakan egois. Sebagai contohnya yaitu tatkala seorang anak meminta kepada bapaknya sejumlah uang dengan alasa bahwa ibunya memintanya untuk membelikan keperluan rumah tangga, sementara ia sebenarnya ingin membeli keinginan dirinya. 7. Faktor Pemicu Ketujuh Yaitu Dikarenakan tradisi atau panutan Terkadang terciptanya Dusta/bohong pada anak itu karena dilatar belakangi oleh panutan dari kedua orang tuanya. Seperti si anak tidak menerima pesan atau panggilan seseorang melalui henponnya, sekalipun sebenarnya dia telah menerimanya. Atau karena ibunya yang mengajak untuk membeli mainan di pasar, tapi sebaliknya si ibu ternyata mengajak didokter untuk diberi suntikan.

Pemantauan perkembangan psikomotor anak

11.43 Add Comment




Pemantauan   perkembangan   psikomotor   anak   sangat   penting   untuk mengetahui penyimpangan secaradini shingga upayapencegahan, upayastimulasi dan upaya penyembuhan serta pemulihan dalam pelayanan kesehatan anakdapat dioptimalkan. Upaya tersebut dilakukan sesuai dengan umur perkembangan anak sehingga tercapai kondisi optimal. Pada umumnya terdapat pola-pola tertentu dlam perkembangan anak. Namun pada hakekatnya perkembangan anak adalah bersifat individual akibatnya tidak mungkin untuk mengukur perkembangan anak secara keseluruhan yang dapat diukur hanyalah gejala atau tanda-tanda tertentu dsri perkembangannya atau secara umum (Satoto cit Eviana, 1998)
Kegiatan pemantauan perkembangan psikomotor anakterutama perkembangan motorik dapat dilakukan di pusat pelayanan kesehatan, sekolahdan lingkungan  keluarga.  Pemantauan  yang  dilakukan  di  sekolah  misalnya menggunakan metode skriningperkembangan menurut Denver II (Denver Development Screening Test / DDST). Pemantauan yang dilakukan di lingkungan keluarga dan posyandu misalnya menggunakan kartu perkembangan anak dan gerakan bina keluarga balita.

Perkembangan Jaringan Otak Balita dan Cara Mengembangkan Jaringan Otak Balita

06.49 Add Comment

Anak-anak di bawah umur lima tahun (balita), selalu memberikan respons yang asertif, lucu, menantang, dan punya sifat ingin tahu. Balitajuga suka menyanyi, energik, banyak mengoceh, suka mengamati, memiliki kepercayaan diri, dan tidak bisa diramalkan. Saat itu, anak-anak menampung semua yang ada di sekelilingnya. Semua yang ada di lingkungan ditangkap melalui panca indera. Pada saat itu, mereka memiliki kemampuan penangkapan yang jauh lebih besar daripada orang dewasa. Ketika anak umur tiga tahun, anak mengalami perkembangan otak yang pesat. Dalam otak anak terdapat setriliun jaringan, dua kali jumlah jaringan yang orang dewasa. Sel otak yang disebut neuron dihubungkan sel lain yang terjadi sebelum kelahiran. Sel-sel mengontrol detak jantung, napas, refleks, serta mengatur fungsi lain. Sel-sel memberikan sinyal dalam dorongan elektrik yang bergerak sepanjang sel syaraf. Masing-masing sel berhubungan dengan 15.000 sel lain yang disebut synapse. Otakyang sangat padat dengan jaringan akan terus tumbuh hingga umur 10 tahun. Setelah itu, jaringan-jaringan tambahan akan dibuang sesuai dengan yang tidak diperlukan lagi. Secara pelan, otakmenata ketidakteraturan kabel-kabel yang jumlahnya tidak terhitung itu.
Terjadi peningkatan produksi synapse sampai tiga kali orang dewasa pada anak yang berumur antara tiga sampai 10 tahun. Pada umur 11 tahun, otak memulai mekanisme kerjanya membuang synapse-synapse yang tidak dibutuhkan. Otak membuang synapse yang tidak dibutuhkan berdasarkan sel-sel yang sering digunakan. Kalau suatu sel sering digunakan, sel itu akan dipertahankan, tetapi kalau tidak dibuang, akan dipertahankan. Seperti halnya anak yang pada saat kecil sering dilatih menyanyi atau lainnya, sel-sel tersebut akan dipertahankan sampai mereka besar. Jadi, semakin banyak pelatihan yang diberikan orangtua sejak anak kecil dan sering digunakan, sel-sel tersebut akan tertahan dan digunakan hingga mereka besar.
Pengalaman awal anak secara mendalam akan memicu otak dalam mengubah pola berpikir tentang kebutuhan anak. Selain itu kapasitas individu untuk belajar dalam berbagai latar bergantung pada hubungan dengan alam atau bakat (nature) dan pengasuhan atau pendidikan (nurture) yang diberikan. Otak manusia terkonstruktif dalam cara-cara yang kompleks sehingga mendapatkan manfaat pengalaman dan pendidikan yang diberikan terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan.
Cara paling baik mengembangkan jaringan otak anak ialah menyediakan kebutuhan dan keperluan, seperti lingkungan yang sangat merangsang untuk dieksplorasi lebih lanjut. Lingkungan yang aman dan dipenuhi oleh orang-orang yang memberikan tanggapan terhadap kebutuhan intelektual dan emosional mereka. Jelas sekali pertumbuhan anak saat mereka berumur nol tahun hingga berumur 11 tahun merupakan masa krusial perkembangan anak. Masa tersebut merupakan dasar bagi anak dalam pembentukan karakter, pengalaman, dan pola berpikir sesuai dengan apa yang mereka dapat pada saat itu.


Pengertian Perilaku Pemalu dan Dampak Perilaku Pemalu

07.08 Add Comment
Para ahli nampaknya memiliki beberapa pandangan yang berbeda tentang perilaku pemalu (shyness). Ada ahli yang mengatakan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.
Kecenderungan menarik diri ini sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita dapat melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati orang atau tidak mau untuk dipegang. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan diri mereka berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal.
Swallow, seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu. Adapun Hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu antara lain :
  • ·menghindari kontak mata;
  • ·tidak mau melakukan apa-apa;
  • ·terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya);
  • ·tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti “ya”, “tidak”, “tidak tahu”, “halo”;
  • ·tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;
  • ·tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;
  • ·mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu;
  • ·menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah);
  • ·mengalami psikosomatis;
  • ·merasa tidak ada yang menyukainya.
Swallow juga menyatakan adanya beberapa situasi dimana seseorang (pemalu maupun tidak) akan mengalami rasa malu yang wajar dan lebih dapat diterima, yaitu
  • ·bertemu dengan orang yang baru dikenal;
  • ·tampil di depan orang banyak;
  • ·situasi baru (misalnya sekolah baru, pindah rumah baru).
Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang. Misalnya, ketika berada di rumah teman/tetangga, anak ingin buang air kecil tetapi malu minta ijin ke toilet, sehingga menahan keinginan buang air yang akhirnya berakibat sianak malah mengompol.
Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.

Pengertian Pengasuhan Anak dan Pentingnya Pola Asuh anak

02.41 Add Comment
Secara etimologi pengasuhanberasal dari kata “asuh“ artinya pemimpin, pengelola, membimbing. Pengasuh berarti orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin atau mengelola. Pengasuhanyang dimaksud ialah mengasuh anak. Mengasuh anak maknanya ialah mendidik dan memelihara anak, mengurus makan, minum, pakaian dan keberhasilannya dalam periode pertama sampai dewasa.
Dapat dipahami, pengasuhananak meliputi kepemimpinan, bimbingan yang dilakukan terhadap anakberkaitan dengan kepentingan hidup. Beberapa pola asuh dari orangtua atau pendidik yang dapat mempengaruh kreativitas anak antara lain: 1) lingkungan fisik, 2) lingkungan sosial, 3) pendidikan internal dan eksternal, 4) dialog, 5) suasana psikologis, 6) sosio budaya, 7) prilaku orangtua/pendidik, 8) kontrol, 9) menentukan nilai moral.
Sembilan pola asuh orangtua/pendidik tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan diri sekaligus kreativitas anak. Keterkaitan pola asuh orangtua/pendidik dengan kreativitas anak dimaksudkan sebagai upaya orangtua/pendidik dalam meletakkan dasar-dasar disiplin diri kepada anakdan membantu mengembangkannya sehingga memiliki disiplin diri. Intentitas kebutuhan anak untuk mendapatkan bantuan dari orangtua/pendidik bagi kepemilikan dan pengembangan dasar –dasar kreativitas diri, menunjukkan adanya kebutuhan internal yaitu manakala anak masih membutuhkan banyak bantuan dari orangtua/pendidik untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar kreativitas diri, berdasarkan nalar sekaligus berdasarkan kata hati.
Karena itu kreativitas anaktidak terlepas dari pengasuhanorangtua/pendidik atau dalam arti kata bahwa kreativitas anak erat hubungannya dengan pola asuh yang diberikan oleh orangtua/pendidik. Mendidik anak pada hakikatnya merupakan usaha nyata dari pihak orang tua untuk mengembangkan totalitas potensi yang ada pada diri anak. Melalui pendidikan orang tua memegang peranan sebagai mediator antara anak dan masyarakatnya, antara anak dengan norma-norma kehidupan, antara anakdengan orang dewasa dan sudah tentu dengan visi orang tua masing-masing. Melalui pendidikan dalam keluarga anakakan memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang dari insting-insting biogenetik yang primitif untuk belajar terhadap respon-respon yang diterimanya.